.: "Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke-65 Negara Kesatuan Republik Indonesia, Negara yang Ber-Bhineka Tunggal Ika, Negara Kepulauan yang Berbasis Nusantara" :.      .: "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, Hidangkan Ikan Saat Berbuka. Ikan : Lezat, Sehat dan Mencerdaskan" :.      .: "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, Puasa Meningkatkan Taqwa, Kejujuran dan Etos Kerja" :.      .: "Korupsi perbuatan hina dan dosa. Korupsi merugikan bangsa dan negara, maka laporkan ke KPK (Direktorat Pengaduan Masyarakat), Jl.HR.Rasuna Said Kav.C 1 Jakarta 12920 PO BOX 575 Jakarta 10120 Telp. (021) 25578389 Fax.(021) 52892454 sms 08558575575" :.      .: "Korupsi perbuatan hina dan dosa. Korupsi merugikan bangsa dan negara,maka laporkan ke KPK (Direktorat Pengaduan Masyarakat), website : www.kpk.go.id e-mail pengaduan@kpk.go.id Pengaduan non Pidana : Humas KPK 021 25578439" :.     

Berita

  

Menapaki Potensi Perikanan Bumi Tanadoang

Menapaki Potensi Perikanan Bumi Tanadoang 

Panas matahari yang memantul di sekitar bebatuan gersang, pantulannya terasa menyengat kulit, saat satu-satunya kapal motor dari Pelabuhan Tanjung Bira, merapat di Dermaga Mappatoba Pamatata Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.  Pemandangan batu padas gersang silih berganti dengan rimbunan pohon kelapa, yang ditanam disepanjang jalan poros menuju Kota Benteng,Pusat  Ibukota Kota Kabupaten Kepulauan Selayar. Dari sela pohon kelapa, laut membentang biru dan bersih. Inilah pulau yang pada bulan Agustus 2009 lalu resmi berstatus kabupaten kepulauan kedua di Indonesia. Meski menyandang gelar kabupaten  kepulauan, namun sebagian besar penduduknya tetap menggantungkan harapan hidup dari hasil bertani dan berkebun. Pulau di ujung selatan Sulawesi ini memanjang 100 kilo meter ke arah selatan, dan memiliki lebar 30 kilo meter.  Di sela-sela batu padas hitam yang terkesan kering dan tandus ini, orang Selayar bercocok tanam.

 tumbuhan pangan seperti jagung. Namun di daratan Sulawesi, Pulau Selayar lebih dikenal lewat kopra dan buah jeruk keprok, yang oleh penduduk Selayar sendiri disebut Munte Hongkong. Disebut demikian, karena sejak dulu buah jeruk hasil perkebunan mereka banyak dibeli oleh kaum etnis Cina. Jeruk keprok hasil perkebunan di Selayar bercita rasa khas. Aromanya tajam dan rasanya manis segar. Kombinasi antara aroma dan rasa ini merupakan hasil dari kondisi tanah yang tandus dan kurang air.  Menurut Kepala Dinas Kelautan & Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar, Dr. Ir. Marjani Sultan, M. Si,  Tak seperti pulau kecil pada umumnya, masyarakat nelayan Kabupaten Kepulauan Selayar hanya menjadi kaum minoritas.  Padahal laut Sulawesi yang membentang luas, sering menjadi jalur migrasi berbagai jenis ikan. Antara bulan Septemberhingga Desember, jutaan cumi-cumi akan bermigrasi dari perairan selat Bali, menuju perairan Australia, melalui selat NTT dan selat Bone.

 Perairan Kabupaten Kepulauan Selayar pada bulan-bulan  juga menjadi jalur perlintasan ikan tuna sirip biru yang harganya terbilang cukup mahal. Saat yang sangat  menguntungkan bagi para nelayan Selayar, yang umumnya menangkap ikan dengan menggunakan perahu bagan. Menangkap ikan dengan bagan perahu dilakukan dengan cara tradisional. Nelayan umumnya berangkat saat petang hari, beriringan menuju perairan diantara pulau-pulau kecil yang bertebaran disekitar Pulau Selayar.
 
Menurutnya, pulau Selayar dikelilingi sekitar seratus dua puluh lima buah pulau-pulau kecil, enam puluh diantaranya telah dihuni manusia. Perahu bagan kebanyakan bukan milik sendiri. Para nelayan muda ini mengoperasikan bagan milik orang lain yang punya modal besar. Karena, diperlukan biaya ratusan juta Rupiah untuk membuat satu perahu bagan dengan seluruh perlengkapan penangkap ikan seperti ini. Modal akhirnya menjadi salah satu kendala yang membuat kegiatan perikanan di Selayar tak kunjung mengalami kemajuan. Untuk menangkap ikan dan cumi-cumi, nelayan menggunakan tipuan cahaya. Marjani menambahkan, sebagian besar ikan yang tertangkap, tidak didaratkan di Selayar.
 
Para pengumpul datang langsung dengan perahu yang dilengkapi peti-peti es. Transaksi jual beli dilakukan di tengah laut. Cara ini tentu saja hanya menguntungkan pihak pengumpul saja, tukasnya.  Nelayan tidak memiliki harga tawar. Bahkan, pengumpul kerap kali menekan harga dengan dalih ikan di darat sedang sepi peminat, sehingga mereka membeli dengan harga murah. Sebaliknya, di darat harga ikan menjadi mahal.  Kabupaten Kepulauan Selayar memang tak punya tempat pendaratan ikan yang terkoordinir, “kecuali kawasan PPI Bonehalang, yang hingga saat ini juga belum dapat berfungsi maksimal”. Ikan dari perahu sampai ke konsumen sedikitnya telah melalui empat tangan. Masing-masing menaikkan harga untuk mencari keuntungan.  
 
Ketiadaan tempat pendaratan ikan inilah, yang membuat para pengumpul menjual ikan hasil tangkapan nelayan ke Bira, bahkan hingga ke Makassar. Hanya separuhnya yang sampai ke tangan masyarakat Selayar.  Perairan disekitar Kabupaten Kepulauan Selayar memang kay akan sumber daya ikan, sehingga adalah sebuah hal yang tak berlebihan jika tidak sedikit pula nelayan dari daratan Sulawesi, seperti Sinjai dan Bone, yang datang menangkap ikan hingga Selayar. Nelayan-nelayan ini menggunakan perahu  pukat mini. Jenis perahu yang justru tidak dimiliki oleh nelayan Selayar sendiri. Akibatnya nelayan Selayar, hanya mampu menangkap jenis-jenis ikan permukaan saja. Ikan di pedalaman perairan Selayar, justru dinikmati nelayan lain. Upaya pemerintah setempat membangun tempat pendaratan ikan sedang dalam proses pelaksanaan. Namun bukan sekedar sarana di darat yang diperlukan untuk memajukan nelayan Selayar.
 
Permodalan untuk membuat perahu dan peningkatan pengetahuan untuk teknik penangkapan dengan alat modern, tentunya menjadi bagian yang harus dipikirkan pula. Kika kabupaten berstatus Kepulauan ini ingin memakmurkan nelayannya. (fadly syarif)