Web Link Umum
- Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
- Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
- Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum & Keamanan
- Departemen Keuangan
- Departemen Pertanian
- FAO
- BAPPENAS
- LIPI
- Bakosurtanal
- BKPM
- Primaniyarta Awards 2008
- Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar
- Trilateral Partnership
- Program Mitra Bahari
- Badan Pusat Statistik
Web Counter
610399
Polling
Menurut Pendapat Anda, apakah dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, seharusnya pembangunan berbasis kemaritiman?
Artikel
Berilmu dan Beramal Lewat Pesantren Bahari
Berilmu dan Beramal Lewat Pesantren Bahari
(Oleh : * Soen’an H. Poernomo)
(Oleh : * Soen’an H. Poernomo)
SUNAN Maulana Malik Ibrahim di Gersik Jawa Timur pada tahun 1619 mendirikan pesantren. Dari kata dasar bahasa sansakerta “shantri” yang berarti ilmuwan Hindu. Para santri mengangsu ilmu, bahkan menetap di pesantren sebagai wahana pengembangan masyarakat. Di akhir abad ke-19, KH Hasyim asyari mendirikan pesantren di kawasan tebuireng dengan pertimbangan utama untuk misi sosial menghadapi kemunduran moral sebagai akibat industrialisasi keberadaan pebrik gula di cukir, jombang.
Dalam perkembangannya, pesantren mengalami metamorfosis. Semula terbatas pada penanaman keimanan dan aqidah, keislaman atau syari’ah, dan ihsan, yakni akhlak etika dan tasawuf. Selanjutnya tidak hanya bertasbih, namun juga beramal. Sebagaimana diketahui, unsur untuk menjadi manajer di muka bumi itu ada dua hal. Pertama adalah ibadatullah, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial, untuk bermanfaat bagi sesama. Dan yang kedua adalah ‘imamah al ardh, membangun dan melestarikan bumi untuk kemaslahatan bersama. Pesantren telah membentuk dirinya menjadi instansi pendidikan keagamaan, yang membuka diri memiliki kurikulum yang kompleks.
Tiga dimensi bagi Pesantren
Kini kondisi manusia sangat berbeda dengan seabad. Sistem ekonomi semakin kompleks dan sangat akut mempengaruhi kehidupan. Ilmu dan teknologi menjadi bagian yang tidak tepisahkan dari keseharian. Di tengah itu, kiprah pesantren memiliki tiga pilar, yakni dimensi keagamaan, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan desiminator ilmu dan teknologi. “Dan tidaklah kami mengutusmu, kecuali sebagai rahmat bagi umat manusia”. (QS al-anbiyaa: 107).
Manusia tentu memiliki tujuan untuk fiddunya hasanah, tidak hanya fill aakhirati hasanah. Oleh karenanya , harus ada keseimbangan antara ibadah yang bersifat gashirat. Yang manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri, dan ibadah muta’addiyah yang bersifat sosial, untuk kepentingan umum.
Bagaimana pesantren harus bersikap? Pertama tentu membangun kapasitasnya, sebagaimana sabda Rasul saw “ Barangsiapa yang menghendaki dunia, maka ia harus menguasai ilmunya. Dan barang siapa yang menghendaki akhirat, maka ia harus menguasai ilmunya, dan barang siapa menghendaki keduanya, maka ia harus menguasai ilmunya.”
Di samping jadi diri sebagai lembaga pendidikan keagama, maka pesantren harus memiliki pula kemampuan untuk berkiprah dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pengetahuan ekonomi harus difahami keterampilan sosiologis harus dikuasai. Lantaran terus maju dengan pesat, maka pesantren sebagai unsur pelopor kemajuan masyarakat, haruslah dimiliki untuk andal dalam berilmu dan teknologi. Tapi pada hal yang baru, juga mesti terbang pilih. Mana yang diambil dan dihindari hal baru yang buruk. “Al-muhafadahah ‘aid al-qadim al-shalih , Tidak mungkin berjuta santri untuk selanjutnya hanya menjadi guru agama, ustadz atau kiai semuanya. Tentu banyak yang harus melebur dalam masyarakat beserta kehidupan duniawinya.maka,yang baik , terutama bagi Indonesia sebagai negara maritim, yang sebagian besar wilayahnya berupa laut dan memiliki kawasan pesisir yang sangat panjang dan luas. Pesantren bahari dituntut memiliki tiga dimensi, yakni keagamaan, pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dan desiminator teknologi kelautan dan perikanan.
Dalam perkembangannya, pesantren mengalami metamorfosis. Semula terbatas pada penanaman keimanan dan aqidah, keislaman atau syari’ah, dan ihsan, yakni akhlak etika dan tasawuf. Selanjutnya tidak hanya bertasbih, namun juga beramal. Sebagaimana diketahui, unsur untuk menjadi manajer di muka bumi itu ada dua hal. Pertama adalah ibadatullah, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial, untuk bermanfaat bagi sesama. Dan yang kedua adalah ‘imamah al ardh, membangun dan melestarikan bumi untuk kemaslahatan bersama. Pesantren telah membentuk dirinya menjadi instansi pendidikan keagamaan, yang membuka diri memiliki kurikulum yang kompleks.
Tiga dimensi bagi Pesantren
Kini kondisi manusia sangat berbeda dengan seabad. Sistem ekonomi semakin kompleks dan sangat akut mempengaruhi kehidupan. Ilmu dan teknologi menjadi bagian yang tidak tepisahkan dari keseharian. Di tengah itu, kiprah pesantren memiliki tiga pilar, yakni dimensi keagamaan, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan desiminator ilmu dan teknologi. “Dan tidaklah kami mengutusmu, kecuali sebagai rahmat bagi umat manusia”. (QS al-anbiyaa: 107).
Manusia tentu memiliki tujuan untuk fiddunya hasanah, tidak hanya fill aakhirati hasanah. Oleh karenanya , harus ada keseimbangan antara ibadah yang bersifat gashirat. Yang manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri, dan ibadah muta’addiyah yang bersifat sosial, untuk kepentingan umum.
Bagaimana pesantren harus bersikap? Pertama tentu membangun kapasitasnya, sebagaimana sabda Rasul saw “ Barangsiapa yang menghendaki dunia, maka ia harus menguasai ilmunya. Dan barang siapa yang menghendaki akhirat, maka ia harus menguasai ilmunya, dan barang siapa menghendaki keduanya, maka ia harus menguasai ilmunya.”
Di samping jadi diri sebagai lembaga pendidikan keagama, maka pesantren harus memiliki pula kemampuan untuk berkiprah dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pengetahuan ekonomi harus difahami keterampilan sosiologis harus dikuasai. Lantaran terus maju dengan pesat, maka pesantren sebagai unsur pelopor kemajuan masyarakat, haruslah dimiliki untuk andal dalam berilmu dan teknologi. Tapi pada hal yang baru, juga mesti terbang pilih. Mana yang diambil dan dihindari hal baru yang buruk. “Al-muhafadahah ‘aid al-qadim al-shalih , Tidak mungkin berjuta santri untuk selanjutnya hanya menjadi guru agama, ustadz atau kiai semuanya. Tentu banyak yang harus melebur dalam masyarakat beserta kehidupan duniawinya.maka,yang baik , terutama bagi Indonesia sebagai negara maritim, yang sebagian besar wilayahnya berupa laut dan memiliki kawasan pesisir yang sangat panjang dan luas. Pesantren bahari dituntut memiliki tiga dimensi, yakni keagamaan, pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dan desiminator teknologi kelautan dan perikanan.
*Ketua Kerohisan Islam Departemen Kelautan dan Perikanan
sumber : Majalah Sabili no 23 thn XV jumadil awal 1429
